islam

http://www.4shared.com/file/35534303/8e0d39e6/Opick_-_Kesaksian_Diri.html?s=1

Latest Stories

Ini adalah hari besar bagi 120 anggota Jamaah Muslim Ahmadiyah di Giessen.
Upacara peletakan batu pertama secara simbolis untuk Masjid “Bait-ul-Samad” dihadiri oleh Khalifah Islam, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad, pemimpin spiritual seluruh dunia Jamaah Muslim Ahmadiyah.

Hadhrat Masroor Ahmad disambut oleh syair-syair anak-anak dalam bahasa urdu.
Walikota Giessen, Gerda Weidel-Greilich ambil bagian dalam acara tersebut dan bergabung dengan Mirza Masroor Ahmad dalam upacara peletakan batu pertama.
Dalam sambutannya walikota memuji moto “Love for All, hatred for none” dari Jamaah Muslim Ahmadiyah yang tidak hanya menegaskan bahwa Islam adalah agama damai dan toleransi tetapi juga menegaskan kembali bahwa Islam adalah bagian dari Republik Federal.
Walikota Weigel-Greilich juga memuji keterbukaan masyarakat Ahmadiyah, undangan tahunan pada acara “open house day” dan juga tur lintas agama seminggu yang lalu memberika wawasan iman mereka.
Hadhrat Masoor Ahmad meletakkan batu pertama untuk Masjid dan diikuti 15 batu lainnya. Weigel Greilich juga turut serta setelah istri dari Hadhrat Masroor Ahmad.
Hahdrat Mirza Masroor Ahmad adalah cucu buyut dari pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad dari Qadian, India, yang lebih 100 tahun yang lalu meletakkan dasar dari misi damai. Tujuan lain dari gerakan ini adalah untuk mengembalikan ajaran asli Islam.
Read More ...

Latest Stories

Akhir-akhir ini terjadi keprihatinan yang mendalam di bumi Palestina. Beribu orang tewas akibat serangan Israel ke jalur Gaza yang dimulai tanggal 27 Desember 2008. Dunia pun bergejolak. Beberapa negara dengan keras menentang Israel bahkan dengan memutuskan hubungan diplomatiknya. Unjuk rasa menentang serangan Israel pun terjadi di mana-mana termasuk di Indonesia. Namun, perang masih mungkin meletus hingga beberapa tahun mendatang.

Palestina memang memiliki sejarah yang pelik. Israel, yang merupakan bangsa Yahudi, mendirikan negaranya di atas tanah Palestina. Hal ini menyebabkan situasi berkembang hingga keadaan sekarang. Untuk lebih memahami konflik ini, maka saya berusaha merangkum sejarah Palestina dari awal hingga terjadinya konflik.


Tulisan ini dirangkum dari beberapa sumber yaitu:

Makalah Umar Asasudin, M.A. yang berjudul “Peranan Cendekiawan dalam Perjuangan Kemerdekaan Palestina: Pendekatan Sejarah”
Pidato Ikhrimah Shabri (Imam Masjid Al-Aqhsa Palestina pada tahun 1992) yang berjudul “Palestina: Sejarah Perjuangan, Intifada, dan Agresi Israel terhadap Masjidil Aqsha”.
Makalah Dr. Roeslan Abdoelgani yang berjudul “Solidaritas Indonesia terhadap Palestina: Suatu Tinjauan Historis”
Ketiganya terdapat dalam buku “Palestina: Solidaritas Islam dan Tata Politik Dunia Baru”, dengan editor : M Riza Sihbudi & Achmad Hadi, cetakan Pustaka Hidayah tahun 1992. Buku ini berintikan makalah dalam seminar “Pekan Persahabatan Indonesia Palestina” 13-18 Januari 1992 di Yogyakarta.

Kejadian setelah tahun 1992 dirangkum dari:

“Tabel Sejarah Timur Tengah” dalam blog “Kajian Timur Tengah” oleh Dina Y. Sulaeman
“Sejarah Berdirinya Negara Israel” oleh Panji Prabowo (Kepala GAMAIS ITB 2008-2009) dalam blognya
Berita-berita dalam kompas.com tentang perang Israel Palestina.
Selamat membaca!

Wilayah Palestina pada mulanya ditinggali oleh beberapa bangsa, yaitu bangsa Ammonit dan Philistine. Lalu, sekitar tahun 1000 SM, Palestina ditaklukan oleh Raja Thalut dan Daud a.s. Daud a.s. dan keturunannya, yang merupakan bangsa yahudi, akhirnya menjadi raja di sana dan Palestina menjadi tanah air bangsa yahudi dari 1000 SM – 135 M. Palestina sendiri sempat dikuasai oleh Kerajaan Persia, Babilonia, Mesir, dan kerajaan-kerjaaan lain secara bergantian dalam rentang waktu tersebut.

Wilayah Palestina Dikuasai Kerajaan Romawi

Sekitar tahun 100 SM muncullah kekuatan Roma dan pada tahun 63 SM, Roma, di bawah pemerintahan Raja Pompey, menaklukan kerajaan yang menguasai Palestina. Tahun 66 M, timbul pemberontakan yang dilakukan oleh bangsa Yahudi. Perang terjadi dan pemberontak kalah dan akhirnya pada tahun 70 M, Jerussalem jatuh sepenuhnya ke tangan Roma.


Pada saat itu, biasanya Roma tidak melakukan penekanan tetapi memperlakukan daerah jajahannya dengan lembut untuk mempersatukan warga negeranya dengan bangsa jajahannya. Namun, di dalam kasus bangsa Yahudi, cara ini tidaklah berhasil. Seringkali timbul huru-hara dari bangsa Yahudi. Hal ini menyebabkan akhirnya Roma berlaku keras kepada bangsa Yahudi dan mengeluarkan dekrit yang mematikan nasionalismen bangsa Yahudi dengan cara melarang berbagai peribadatan mereka.

Pada akhirnya dekrit ini membuat sebuah pemberontakan besar dari 200.000 orang Yahudi yang dipimpin oleh Barcocheba di Jerussalem. Raja Hadrian yang saat itu memimpin Roma mengirimkan Julius Sevenus dan tentara yang jumlahnya besar untuk memadamkan pemberontakan dan menaklukan Jerussalem. Pada saat itu, bangsa Yahudi kalah dan dikeluarkan peraturan mereka dilarang masuk ke kota apapun alasannya. Jerussalem dijadikan koloni Roma dan tempat peribadatan Yahudi, haikal Yahudi, diganti dengan candi lambang supremasi Roma, candi Yupiter. Mulai saat itu bangsa Yahudi tersebar ke luar Palestina. Namun, ada sebagian kecil yang tetap bertahan di sana.

Setelah masa itu, pengaruh agama Kristen masuk ke Roma, sehingga menumbuhkan penyebaran agama Kristen di Palestina. Agama Kristen tumbuh di daerah tersebut. Lalu, pada pembagian kerajaan Roma tahun 395, Palestina berada dalam kekuasaan Kerajaan Bizantium, yang disebut juga kerajaan Romawi Timur. Pada saat itu Palestina menjadi daerah yang makmur, menjadi pusat perkembangan jemaah haji (beribadah mengunjungi tempat-tempat suci yang dilakukan oleh penganut Kristen,Yahudi,dll.). Namun sesekali muncul penyiksaan kepada bangsa Yahudi oleh bangsa yang menguasai.

Tahun 611 M, Chosroes II, raja Kerajaan Sasan dari Persia,  menyerang daerah itu. Diikuti oleh bangsa Yahudi yang ingin membalas dendam. Yerussalem direbut. Gereja Holy Sepulchre dihancurkan dengan tanah dan hartanya dibawa. Gereja lain bernasib sama dan uskupnya ditahan.

Tahun 628 M, Raja Heralcus dari Bizantium menaklukan kembali teritorial tersebut. Namun kemenangan ini bersifat sementara karena munculnya kekuatan Islam yang melemahkan Kerajaan Bizantium tersebut.
Read More ...

Latest Stories

Di bulan suci Ramadhan, seperti biasa setiap malamnya saya melaksanakan shalat tarawih di mesjid Al-Ikhlas yang berada tidak jauh dari rumah. Malam itu, ustadz yang mengisi kultum di mesjid tersebut menceritakan tentang asal mula turunnya Al Quran. Posting berikut ini adalah sedikit resume yang saya buat setelah mendapatkan kultum dari Ustadz tersebut.

Al Quran diturunkan oleh Allah kepada nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Al Quran terdiri dari 30 Juz, 6666 ayat, 114 surah dan diturunkan setahap demi setahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun.

Al Quran diturunkan kepada nabi Muhammad dengan tiga cara, yaitu pertama malaikat Jibril turun dalam wujud manusianya dan membacakan ayat-ayat Al Quran kepada nabi Muhammad, kemudian beliau mengikutinya. Kedua, adalah Al Quran turun tanpa perantara malaikat Jibril, sehingga tiba-tiba saja ayat-ayat Al Quran tersebut muncul dalam pikiran nabi Muhammad dan yang ketiga adalah Al Quran turun dengan didahului terdengarnya suara gemerincing lonceng yang sangat kuat. Cara terakhir adalah cara yang dirasa nabi Muhammad sangat berat saat menerima wahyu Allah SWT.

Al Quran yang telah diturunkan ini kemudian diajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabat nabi terlebih dahulu sebelum akhirnya disyiarkan secara terang-terangan kepada masyarakat luas. Pada awalnya Al Quran ini hanya dituliskan pada media seadanya saja seperti kulit unta, tulang binatang dan lain-lain, mengingat pada zaman itu belum ditemukan manfaat kertas sebagai media untuk menuliskan Al Quran.

Pada zaman nabi Muhammad, Al Quran tidak diperbolehkan untuk ditulis, melainkan hanya dihafalkan saja di luar kepala baik oleh nabi Muhammad maupun sahabat-sahabatnya. Sementara itu, untuk menjaga kemurnian Al Quran, setiap malam di bulan Ramadhan malaikat Jibril turun ke bumi dan membacakan ayat-ayat Al Quran tersebut dan nabi Muhammad mendengarkannya dengan seksama. Nabi Muhammad sendiri melarang penulisan Al Quran ini dalam media apapun dalam satu kesatuan.

Setelah nabi Muhammad meninggal dunia, tongkat kepemimpinan Islam diberikan kepada kalifah Abu Bakar As syidiq. Pada masa kepemimpinan Abu Bakar ini, orang-orang Islam yang tipis imannya mulai banyak yang meninggalkan Islam. Mereka meninggalkan semua perintah-perintah Allah seperti shalat, puasa dan zakat. Selain itu, bermunculan pula nabi-nabi palsu yaitu orang-orang yang mengaku sebagai penerus nabi Muhammad.

Bayangkan saja, ternyata sejak ratusan tahun yang lalu sudah banyak bermunculan nabi-nabi palsu ke dunia ini. Maka tentu bukan suatu hal yang mengherankan jika sampai posting ini ditulispun masih saja ada orang-orang yang mengaku dirinya adalah nabi. Di Indonesia yang sebagian besar penduduknya muslim ini saja ada banyak kasus kemunculan nabi palsu. Di antaranya Ahmad Mussadeq, Lia Eden dan lain-lain.

Kasus terbaru dan masih hangat adalah masalah aliran Ahmadiyah yang menganggap bahwa Ahmad Mirza adalah nabi penerus nabi Muhammad. Padahal Ahmad Mirza adalah nabi yang diangkat oleh ratu Inggris atas jasa-jasanya memimpin sebagian umat muslim Pakistan untuk berperang melawan muslim-muslim yang memberontak kepada kerajaan Inggris yang saat itu menjajah Pakistan. Ratu Inggris kemudian menyatakan bahwa Ahmad Mirza adalah “Nabi baru” umat Islam yang cinta perdamaian. <---- Tulisan yang dicetak miring adalah tambahan dari penulis sendiri dan bukan merupakan bagian dari kultum.

Kembali lagi ke zaman Kalifah Abu Bakar, dengan munculnya nabi-nabi palsu ini, maka Kalifah Abu Bakar kemudian memerintahkan para sahabat untuk memerangi nabi-nabi palsu dan umat Islam yang tipis imannya itu. Sayangnya, banyak sahabat nabi yang hafal Al Quran dalam rangka menegakkan agama Islam kemudian berguguran satu demi satu.

Melihat hal ini, kemudian Umar bin Khatab menyarankan kepada Kalifah Abu Bakar untuk mengumpulkan ayat-ayat Al Quran dan menuliskannya menjadi satu kitab saja. Awalnya, ide ini ditentang oleh Kalifah Abu Bakar, karena menurut beliau nabi Muhammad sendiri yang melarang penulisan ayat-ayat Al Quran tersebut, namun setelah melalui perdebatan panjang dan demi menegakkan agama Islam, akhirnya Kalifah Abu Bakar pun mengalah. Setelah itu, dibentuklah panitia pengumpulan dan penulisan Al Quran tersebut.

Ayat-ayat Al Quran itu kemudian dikumpulkan dan ditulis ulang oleh Zaid bin Tsabit. Pada masa Kalifah Umar bin Khatab, kitab Al Quran hanya berjumlah lima buah dan disimpan di lima tempat yang berbeda antara lain, Mekkah, Basrah, Madinah, dan disimpan oleh Kalifah Umar sendiri.

Pada era kepemimpinan Utsman bin Affan, beliau berhasil menaklukkan Syria yang terlebih dahulu sudah mengenal kertas sebagai media untuk menulis. “Teknologi baru“ ini kemudian dimanfaatkan untuk memperbanyak kitab Al Quran. Akibatnya, sekarang semua orang dapat membaca, mengkaji dan memperdalam Al Quran dimanapun dan kapanpun juga. Bahkan, pada zaman sekarang Al Quran diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dengan tentu saja tetap menuliskan ayat-ayat asli Al Quran yang masih berbahasa Arab, sehingga kemurnian Al Quran Insya Allah masih terjaga kemurniannya bahkan sampai sekarang sekalipun. Terjemahan yang ada dalam Al Quran ini semata-mata hanya untuk mempermudah umat Islam untuk mempelajari Al Quran.
Read More ...

Latest Stories

Nabi Yusuf adalah putera ke tujuh daripada dua belas putera-puteri Nabi Ya'qub. Ia dengan adiknya yang bernama Benyamin adalah beribukan Rahil, saudara sepupu Nabi Ya'qub. Ia dikurniakan Allah rupa yang bagus, paras tampan dan tubuh yang tegap yang menjadikan idaman setiap wanita dan kenangan gadis-gadis remaja. Ia adalah anak yang dimanjakan oleh ayahnya, lebih disayang dan dicintai dibandingkan dengan saudara-saudaranya yang lain, terutamanya setelah ditinggalkan yaitu wafatnya ibu kandungnya Rahil semasa ia masih berusia dua belas tahun.
Perlakuan yang diskriminatif dari Nabi Ya'qub terhadap anak-anaknya telah menimbulkan rasa iri-hati dan dengki di antara saudara-saudara Yusuf yang lain, yang merasakan bahawa mereka dianak-tirikan oleh ayahnya yang tidak adil sesama anak, memanjakan Yusuf lebih daripada yang lain.
Rasa jengkel mereka terhadap kepada ayahnya dan iri-hati terhadap Yusuf membangkitkan rasa setia kawan antara saudara-saudara Yusuf, persatuan dan rasa persaudaraan yang akrab di antara mereka.

Saudara-saudara Yusuf mengadakan pertemuan

Dalam pertemuan rahsia yang mrk adakan untuk merundingkan nasib yang mrk alami dan mengatur aksi yang harus mrk lakukan bagi menyedarkan ayahnya, menuntut perlakuan yang adil dan saksama, berkata salah seorang drp mrk:" Tidakkah kamu merasakan bahawa perlakuan terhadap kita sebagai anak-anaknya tidak adil dan berat sebelah? Ia memanjakan Yusuf dan menyintai serta menyayangi lebih daripada kita, seolah-olah Yusuf dan Benyamin sahajalah anak-anak kandungnya dan kita anak-anak tirinya , padahal kita adalah lebih tua dan lebih cekap daripada mereka berdua serta kitalah yang selalu mendampingi ayah,mengurus segala keperluannya dan keperluan rumahtanggannya. Kita merasa hairan mengapa hanya Yusuf dan Benyamin sahaja yang menjadi keistimewaan disisi ayah. Apakah ibunya lebih dekat kepada hati ayah berbanding dengan ibu kita? Jika memang itu alasannya ,maka apakah salah kita? Bahwa kita lahir daripada ibu yang mendapat tempat kedua di hati ayah ataukah paras Yusuf yang lebih tampan dan lebih cekap drp paras dan wajah kita yang memang sudah demikian diciptakan oleh Tuhan dan sesekali bukan kehendak atau hasil usaha kita? Kita amat sesalkan atas perlakuan dan tindakan ayah yang sesal dan keliru ini serta harus melakukan sesuatu untuk mengakhiri keadaan yang pincang serta menjengkelkan hati kami semua."

Seorang saudara lain berkata menyambung:" Soal cinta atau benci simpati atau antipati adalah soal hati yang tumbuh laksana jari-jari kita, tidak dapat ditanyakan mengapa yang satu lebih rebdah dari yang lain dan mengapa ibu jari lebih besar dari jari kelingking. Yang kita sesalkan ialah bahwa ayah kita tidak dpt mengawal rasa cintanya yang berlebih-lebihan kepada Yusuf dan Benyamin sehingga menyebabkannya berlaku tidak adil terhadap kami semua selaku sesama anak kandungnya. Keadaan yang pincang dalam hubungan kita dengan ayah tidak akan hilang, jika penyebab utamanya tidak kita hilangkan. Dan sebagaimana kamu ketahui bahwa penyebab utamanya dari keadaan yang menjengkel hati ini ialah adanya Yusuf di tengah-tengah kita. Dia adalah penghalang bagi kita untuk dpt menerobos ke dalam lubuk hati ayah kita dan dia merupakan dinding tebal yang memisahkan kita dari ayah kita yang sangat kita cintai. Maka jalan satu-satunya untuk mengakhiri kerisauan kita ini ialah dengan melenyapkannya dari tengah-tengah kita dan melemparkannya jauh-jauh dari pergaulan ayah dan keluarga kita. Kita harus membunuh dengan tangan kita sendiri atau mengasingkannya di suatu tempat di mana terdpt binatang-binatang buas yang akan melahapnya sebagai mangsa yang empuk dan lazat. Dan kita tidak perlu meragukan lagi bahwa bila Yusuf sudah lenyap dari mata dan pergaulan ayah , ia akan kembali menyintai dan menyayangi kita sebagai anak-anaknya yang patut mendapat perlakuan adil dan saksama dari ayah dan suasana rumahtangga akan kembali menjadi rukun, tenang dan damai, tiada sesuatu yang merisaukan hati dan menyesakkan dada."

Berkata Yahudza, putera keempat dari Nabi Ya'qub dan yang paling cekap dan bijaksana di antara sesama saudaranya:" Kita semuanya adalah putera-putera Ya'qub pesuruh Allah dan anak dari Nabi Ibrahim, pesuruh dan kekasih Allah. Kami semua adalah orang-orang yang beragama dan berakal waras. Membunuh adalah sesuatu perbuatan yang dilarang oleh agama dan tidak diterima oleh akal yang sihat, apa lagi yang kami bunuh itu atau serahkan jiwanya kepada binatang buas itu adalah saudara kita sendiri , sekandung, sedarah , sedaging yang tidak berdosa dan tidak pula pernah melakukan hal-hal yang menyakitkan hati atau menyentuh perasaan. Dan bahwa ia lebih dicntai dan disayangi oleh ayah, itu adalah suatu yang berada di luar kekuasaannya dan sesekali tidak dpt ditimpakan dosanya kepadanya. Maka menurut fikiran saya kata Yahudza melanjutkan bahasnya ialah dengan jalan yang terbaik untuk melenyapkan Yusuf ialah melemparkannya ke dalam sebuah perigi yang kering yang terletak di sebuah persimpangan jalan tempat kafilah-kafilah dan para musafir berhenti beristirehat memberi makan dan minum kepada binatang-binatang kenderaannya. Dengan cara demikian terdpt kemungkinan bahwa salah seorang daripada musafir itu menemukan Yusuf, mengangkatnya dari dalam perigi dan membawanya jauh-jauh sebagai anak pungut atau sebagai hamba sahaya yang akan diperjual-belikan .Dengan cara aku kemukakan ini ,kami telah dapat mencapai tujuan kami tanpa melakukan pembunuhan dan merenggut nyawa adik kami yang tidak berdosa."

Fikiran dan cadangan yang dikemuka oleh Yahudza itu mendapat sambutan baik dan disetujui bulat oleh saudara-saudaranya yang lain dan akan melaksanakannya pada waktu dan kesempatan yang tepat. Pertemuan secara rahsia itu bersurai dengan janji dari masing-masing saudara hadir, akan menutup mulut dan merahsiakan rancangan jahat ini seketat-ketatnya agar tidak bocor dan tidak didengar oleh ayah mereka sebelum pelaksanaannya.
Read More ...

Latest Stories

Tidak banyak yang dikisahkan oleh Al-Quran tentang Nabi Yunus sebagaimana yang telah dikisahkan tentang nabi-nabi Musa, Yusuf dan lain-lain. Dan sepanjang yang dapat dicatat dan diceritakan oleh para sejarawan dan ahli tafsir tentang Nabi Yunus ialah bahawa beliau bernama Yunus bin Matta. Ia telah diutuskan oleh Allah untuk berdakwah kepada penduduk di sebuah tempat bernama "Ninawa" yang bukan kaumnya dan tidak pula ada ikatan darah dengan mereka. Ia merupakan seorang asing mendatang di tengah-tengah penduduk Ninawa itu. Ia menemui mereka berada di dalam kegelapan, kebodohan dan kekafiran, mereka menyembah berhala menyekutukan kepada Allah.

Yunus membawa ajaran tauhid dan iman kepada mereka, mengajak mereka agak menyembah kepada Allah yang telah menciptakan mereka dan menciptakan alam semesta, meninggalkan persembahan mereka kepada berhala-berhala yang mereka buat sendiri dari batu dan berhala-berhala yang tidak dapat membawanya manfaaat atau mudarat bagi mereka. Ia memperingatkan mereka bahawa mereka sebagai manusia makhluk Allah yang utama yang memperoleh kelebihan di atas makhluk-makhluk yang lain tidak sepatutnya merendahkan diri dengan menundukkan dahi dan wajah mereka menyembah batu-batu mati yang mereka pertuhankan, padahal itu semua buatan mereka sendiri yang kadang-kadang dan dapat dihancurkan dan diubah bentuk dan memodelnya. Ia mengajak mereka berfikir memperhatikan ciptaan Allah di dalam diri mereka sendiri, di dalam alam sekitar untuk menyedarkan mereka bahawa Tuhan pencipta itulah yang patut disembah dan bukannya benda-benda ciptaannya.

Ajaran-ajaran Nabi Yunus itu bagi para penduduk Ninawa merupakan hal yang baru yang belum pernah mereka dengar sebelumnya. Kerananya mereka tidak dapat menerimanya untuk menggantikan ajaran dan kepercayaan yang telah diwariskan oleh nenek moyang mereka yang sudah menjadi adat kebiasaaan mereka turun temurun. Apalagi pembawa agama itu adalah seorang asing tidak seketurunan dengan mereka.
Mereka berkata kepada Nabi Yunus: "Apakah kata-kata yang engkau ucapkan itu dan kedustaan apakah yang engkau anjurkan kepada kami tentang agama barumu itu? Inilah tuhan-tuhan kami yang sejati yang kami sembah dan disembahkan oleh nenek moyamg kami sejak dahulu. Alasan apakah yang membenarkan kami meninggalkan agama kami yang diwariskan oleh nenek moyang kami dan menggantikannya dengan agama barumu? Engkau adalah seorang yang ditengah-tengah kami yang datang untuk merusakkan adat istiadat kami dan mengubah agama kami dan apakah kelebihan kamu diatas kami yang memberimu alasan untuk mengurui dan mengajar kami. Hentikanlah aksimu dan ajak-ajakanmu di daerah kami ini. Percayalah bahawa engkau tidak akan dapat pengikut diantara kami dan bahawa ajaranmu tidak akan mendapat pasaran di antara rakyat Ninawa yang sangat teguh mempertahankan tradisi dan adat istiadat orang-orang tua kami."

Barkata Nabi Yunus menjawab: "Aku hanya mengajak kamu beriman dan bertauhid menurut agama yang aku bawa sebagai amanat Allah yang wajib ku sampaikan kepadamu. Aku hanya seorang pesuruh yang ditugaskan oleh Allah untuk mengangkat kamu dari lembah kesesatan dan kegelapan menuntun kamu ke jalan yang benar dan lurus menyampaikan kepada kamu agama yang suci bersih dari benih-benih kufur dan syirik yang merendahkan martabat manusia yang semata-mata untuk kebaikan kamu sendiri dan kebaikan anak cucumu kelak. Aku sesekali tidak mengharapkan sesuatu upah atau balas jasa daripadamu dan tidak pula menginginkan pangkat atau kedudukan. Aku tidak dapat memaksamu untuk mengikutiku dan melaksanakan ajaran-ajaranku. Aku hanya mengingatkan kepadamu bahawa bila kamu tetap membangkang dan tidak menghiraukan ajakanku , tetap menolak agama Allah yang aku bawa, tetap mempertahankan akidahmu dan agamamu yang bathil dan sesat itu, nescaya Allah kelak akan menunjukkan kepadamu tanda-tanda kebenaran risalahku dengan menurunkan azab seksa-Nya di atas kamu sebagaimana telah dialami oleh kaum terdahulu iaitu kaum Nuh, Aad dan Tsamud sebelum kamu.
Read More ...

Latest Stories

Banyak hal yang dianggap membatalkan shalat atau dianggap tidak boleh dilakukan dalam shalat padahal ternyata hal-hal tersebut boleh dilakukan. Berikut ini adalah hal-hal yang diperbolehkan oleh syari’at untuk dilakukan ketika shalat dan perbuatan yang  tidak membatalkan shalat:

1. Menggendong anak kecil ketika shalat

فعن أبي قتادة ((أن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان يصلي و هو حامل أمامة بنت زينب بنت رسول الله صلى الله عليه و سلم فإذا سجد وضعها و إذا قام حملها))

Dari Abu Qatadah, “Bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat dan dia menggendong Umamah binti Zainab binti Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika sujud beliau meletakkannya dan ketika berdiri beliau menggendongnya lagi.” 1

2. Sedikit berjalan karena ada kebutuhan

فعن عائشت قالت: ((كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي في البيت, و الباب عليه مغلق, فجعت فاستفتحت فمشى ففتح لي, ثم رجع إلى مصلاه, ووصفت أن الباب في القبلة))

Dari ‘Aisyah, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di rumah, dan pintu dalam keadaan terkunci. Kemudian aku datang dan meminta dibukakan pintu, lalu Rasulullah berjalan dan membukakan pintu untukku. Kemudian beliau kembali ke tempat shalatnya, dan aku mengetahui bahwasanya pintu berada di arah kiblat.”2

3. Mencegah orang yang hendak lewat di depannya ketika shalat
Ketika sedang shalat, diperbolehkan menjulurkan tangan untuk menghalangi orang yang hendak melintas di depan kita. Sesuai dengan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari Abu Sa’id al-Khudri:

((إذا صلى أحدكم إلى شيء يستره من الناس, فأراد أحد أن يجتاز بين يديه فليدفعه, فإن أبى فليقاتله فإنما هو شيطان))

“Jika seseorang diantara kalian shalat menghadap sesuatu yang membatasinya dengan manusia, kemudian seseorang hendak lewat di antara kedua tangannya (di hadapannya) maka cegahlah orang itu. Jika dia menolak (masih tetap ingin lewat), maka perangilah dia karena sesungguhnya dia adalah setan.”3

4. Membunuh ular, kalajengking, dan hewan lain yang membahayakan ketika shalat

عن أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه و سلم ((أمر بقتل الأسودين في الصلاة: العقرب والحية))

Dari Abu Hurairah, “bahwasanya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallammemerintahkan untuk membunuh dua hewan yang berwarna hitam ketika shalat: yaitu kalajengking dan ular.”4

5. Memindahkan kaki orang yang tidur karena ada kebutuhan

عن عائشة قالت: ((كنت أمد رجلي في قبلة النبي صلى الله عليه و سلم و هو يصلي, فإذا سجد غمزني, فإذا قام مددتها))

Dari ‘Aisyah, dia berkata: “Aku pernah meluruskan kakiku di arah kiblat nabishallallahu ‘alaihi wa sallam ketika beliau sedang shalat. Jika beliau sujud, beliau memindahkan kakiku, dan jika beliau berdiri aku meluruskan kakiku lagi.”5

6. Mengerjakan shalat dengan memakai sandal
Dari Sa’id bin Yazid, Dia berkata: Aku pernah bertanya kepada Anas bin Malik, “Apakah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengerjakan shalat dengan mengenakan sepasang sandal?” Dia menjawab, “Ya.”6
An-Nawawi menjelaskan, pada hadits ini terdapat keterangan mengenai dibolehkannya shalat dengan memakai sandal dan khuf selama diyakini kebersihannya dari najis.

7. Melepas sandal atau semacamnya ketika shalat karena ada kebutuhan

عن أبي سعيد الخدري قال: ((بينما رسول الله صلى الله عليه و سلم يصلي بأصحابه إذا خلع نعليه فوضعهما عن يساره فلما رأى ذلك القوم ألقوانعالهم….))

Dari Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: “Suatu ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat bersama para sahabatnya, tiba-tiba beliau melepas kedua sandalnya kemudian meletakkan keduanya di sebelah kiri beliau. Ketika para sahabat melihatnya, mereka pun langsung melepaskan sandal-sandal mereka ….”7

8. Meludah pada baju atau sapu tangan/tissue

عن جابر عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال: ((إنأحدكم إذا قام يصلي فإن الله تبارك و تعال قبل وجهه, فلا يبصقن قبل وجهه ولا عن يمينه, وليبصق عن يساره تحت رجله اليسرى فإن عجلت به بادرت فليقل بثوبه هكدا)) ثم طوى ثوبه بعده على بعض

Dari Jabir dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau berkata: “Sesungguhnya jika seseorang di antara kalian berdiri untuk mengerjakan shalat, maka sesungguhnya Allah tabaraka wa ta’ala berada di hadapannya. Maka janganlah meludah ke arah depan dan jangan pula ke arah kanan, akan tetapi meludahlah ke arah kiri di bawah kaki kirinya. Jika tergesa-gesa dengannya (tidak bisa menahan ludahnya) maka meludahlah di bajunya seperti ini.” Kemudian beliau melipat bajunya sebagian atas sebagian yang lain.8

9. Memperbaiki baju dan menggaruk badan ketika shalat

فعن جرير الضبي قال: ((كان علي إذا قام في الصلاة وضع يمين علي رسغ يساره, ولا يزال كذلك حتى يركع إلا أن يصلح ثوبه أو يحك جسده))

Dari Jarir adh-Dhabbi, dia berkata: “Ali jika berdiri di dalam shalat, dia meletakkan tangan kanannya di pergelangan tangan kirinya, dan senantiasa seperti itu hingga ia ruku’ kecuali jika ia memperbaiki bajunya atau menggaruk badannya.”9

10. Bertasbih bagi laki-laki dan bertepuk tangan bagi perempuan jika terjadi kelupaan di dalam shalat

لقوله النبي صلى الله عليه و سلم: ((… من نابه شيء في صلاته فليسبح, فإنه إذا سبح التفت إليه, وإنها التصفيح للنساء))

Sesuai dengan hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: “… jika terjadi sesuatu di dalam shalatnya maka bertasbihlah, maka jika ia bertasbih menolehlah (imam) kepadanya (memperhatikannya), dan sesungguhnya bertepuk tangan adalah bagi perempuan.”10
Makna bertepuk tangan adalah memukulkan telapak tangan ke atas punggung telapak tangan yang lain.11

11. Melihat ke sebelah kanan atau ke sebelah kiri karena kebutuhan

عن جابر قال: ((اشتكى رسول الله صلى الله عليه و سلم فصلينا وراءه و هو قاعد, و أبو بكر يسمع الناس تكبيره, فالتفت إلينا فرانا قياما فأشار إلينا فقعدنا فصلينا بصلاته قعودا))

Dari Jabir, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengeluh. Kami shalat di belakang beliau dan beliau dalam keadaan duduk, dan Abu Bakar memperdengarkan kepada manusia bacaan takbirnya, maka beliau menoleh kepada kami dan melihat kami shalat dalam keadaan berdiri, dan beliau berisyarat kepada kami, maka kami pun duduk, dan sholat sesuai dengan sholat beliau, yaitu dalam keadaan duduk. “12

12. Membalas salam dengan isyarat kepada orang yang memberi salam kepadamu
Jika seseorang mengucapkan salam kepadamu sedangkan kamu sedang melaksanakan shalat, maka sudah jelas bahwasanya tidak boleh membalasnya dengan ucapan, akan tetapi boleh membalasnya dengan isyarat menggunakan tangan.

فعن ابن عمر قال: خرج رسول الله صلى الله عليه و سلم إلى قباء يصلي فيه, فجاءته الأنصار فسلموا عليه و هو يصلي, فقلت لبلال: كيف رأيت رسول الله صلى الله عليه و سلم يرد عليهم حين كانوا يسلمون عليه و هو يصلي؟ قال: هكذا, و بسط كفه [و جعل بطنه أسفل و جعل ظهره إلى فوق]

Dari Ibnu Umar, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah keluar menuju masjid Quba untuk shalat di dalamnya. Kemudian sahabat anshar datang dan memberikan salam kepada beliau sedangkan beliau sedang shalat, maka aku berkata kepada Bilal: bagaimana engkau melihat rasulullah membalas salam mereka ketika mereka memberikan salam kepada beliau sedangkan beliau sedang shalat? Bilal berkata: Seperti ini, dengan membentangkan telapak tangan beliau (beliau menjadikan telapak tangannya berada di bawah dan menjadikan punggung tangannya ke arah atas).13

13. Mengangkat kepala ketika sujud untuk mengecek keadaan imam ketika imam memanjangkan sujudnya
Jika kamu sedang shalat berjama’ah dan imam memanjangkan sujudnya atau tidak terdengar takbir atau semisal itu maka boleh bagimu, ketika kamu sedang sujud, untuk mengangkat kepalamu untuk mengecek keadaan imam.

فعن عبد الله بن شداد عن أبيه قال: ((خرج علينا رسول الله صلى الله عليه و سلم في إحدى صلاتي العشاء و هو حامل حسنا أو حسينا فتقدم رسول الله صلى الله عليه و سلم فوضعه ثم كبر للصلاة فصلى, فسجد بين ظهراني صلاته سجدة أطالها, قال أبي: فرفعت رأسي و إذا الصبى على ظهر رسول الله صلى الله عليه و سلم و هو ساجد فرجعت إلى سجودي, فلما قضى رسول الله صلى الله عليه و سلم الصلاة قال الناس: يا رسول الله إك سجدت بين ظهراني صلاتك سجدة أطلتها حتى ظننا أنه قد حدث أمر, أو أنه يوحى إليك, فقال: ((كل ذلك لم يكن, ولكن ابنى ارتحلنى فكرهت أن أعجله حتى يقضى))

Dari Abdullah bin Syadad dari bapaknya, dia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar menuju kami dalam salah satu shalat isya sedangkan beliau menggendong Hasan atau Husain. Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam maju dan meletakkannya kemudian bertakbir untuk memulai shalat, kemudian beliau shalat. Beliau bersujud di tengah shalatnya dengan sujud yang panjang. Bapakku berkata: “Aku mengangkat kepalaku, ternyata ada anak kecil di atas punggung Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sedangkan beliau sedang sujud, kemudian aku kembali bersujud. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah selesai shalat, para sahabat berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau bersujud di tengah shalatmu dengan sujud yang panjang hingga kami mengira bahwasanya telah terjadi sesuatu, atau bahwasanya hal tersebut diperintahkan kepadamu, Rasulullah menjawab: “Hal tersebut tidak mungkin, akan tetapi anakku menaiki punggungku maka aku enggan untuk mempercepatnya sampai ia selesai (menaiki punggungku).14

14. Melihat mushaf dan membaca darinya ketika shalat sunnah karena kebutuhan
Adapun yang dimaksud kebutuhan seperti menghendaki memperlama berdiri dalam shalat, sedangkan ia tidak hafal. Maka tidak mengapa membaca dari mushaf ketika shalat.

فعن القاسم أن ((عائشة كانت تقرأ في المصحف فتصلى في رمضان)) و قال القاسم: ((كان يؤم عائشة عبد يقرأ في المصحف))

Dari al-Qasim bahwasanya “’Aisyah pernah membaca dari mushaf ketika shalat di bulan Ramadhan.”15 Dan berkata al-Qasim: “Pada hari itu ‘Aisyah beribadah (shalat) dengan membaca dari mushaf”16

15. Menutup mulut ketika menguap
Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda:

إِذَا تَثَاوَبَ أَحَدُكُمْ فَلْيُمْسِكْ بِيَدِهِ عَلَى فِيهِ فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَدْخُلُ

“Bila salah seorang dari kalian menguap maka hendaklah dia menahan mulutnya dengan tangannya karena sesungguhnya setan akan masuk.”17

16. Membetulkan posisi seseorang yang berada di shaf dengan menariknya ke depan atau ke belakang, atau memindahkan makmum dari kiri ke kanan
Seperti yang dilakukan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam terhadap Ibnu Abbas, yaitu beliau memindahkannya dari sisi kiri ke sisi kanan beliau ketika Ibnu Abbas ikut melakukan shalat malam di sebelah beliau.18
Read More ...

Latest Stories

Ali bin Abi Thalib lahir sekitar 13 Rajab 23 Sebelum Hijriah/599M wafat dan pada   21 Ramadhan 40 Hijriah/661M Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang pemeluk Islam pertama dan juga keluarga dari Nabi Muhammad SAW. Ali bin Abi Thalib adalah Khalifah terakhir dari Khulafaur Rasyidin, yang merupakan penerus Nabi Muhamad SAW, Abu Bakar Sidiq, Umar Bin Khatab dan Utsman Bin Afan. Ali bin Abi Thalib adalah sepupu dari Nabi Muhammad SAW, dan menjadi menantu Nabi Muhammad SAW setelah menikahi putrinya Fatimah az-Zahra.


Sunni

Sunni memandang Ali bin Abi Thalib sama dengan Sahabat Nabi yang lain seperti Abu Bakar sq, Umar bin Khatab dan Utsman bin Afan.
Sunni menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Radhiyallahu Anhu (RA) yang artinya semoga Allah melimpahkan Ridha (ke-suka-an)nya. Tambahan ini sama sebagaimana yang juga diberikan kepada Sahabat Nabi yang lain.

Syi'ah

Syi'ah berpendapat bahwa Ali bin Abi Thalib merupakan Imam dan juga Khalifah pertama yang dipilih oleh Rasulullah Muhammad SAW. Khalifah yang berhak menggantikan Nabi Muhammad SAW, dan sudah ditunjuk oleh Beliau atas perintah Allah di Ghadir Khum. Syi'ah lebih meninggikan kedudukan Ali bin Abi Thalib atas Sahabat Nabi yang lain, seperti Abu Bakar , Umar bin Khattab dan utsman bin Afan. Syi'ah juga meninggikan Hasan dan Husein putra dari Ali bin Abi Thalib yang juga merupakan cucu dari Nabi Muhamad SAW.
Syi'ah juga menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Alayhi Salam (AS) yang artinya semoga Allah melimpahkan keselamatan dan kesejahteraan.

Sufi

Sufi menambahkan nama Ali bin Abi Thalib dengan Karramallahu Wajhah (KW) yang berarti semoga Allah memuliakan wajahnya. Hal ini berdasar riwayat bahwa Ali bin Abi Thalib tidak menyukai menggunakan wajahnya guna melihat hal-hal buruk atau yang kurang sopan sekalipun. Di riwayatkan dalam banyak pertempuran atau duel-tanding, jika pakaian musuh terbuka pada bagian bawah terkena sobekan pedang beliau, maka Ali bin Abi Thalib enggan meneruskan duel tanding sampai musuhnya terlebih dahulu memperbaiki pakaiannya.
Ali bin Abi Thalib dianggap oleh kaum Sufi sebagai Imam dalam ilmu al-hikmah dan futuwwah. Dari Ali bin Abi Thalib bermunculan cabang-cabang tarekat (thoriqoh). Hampir semua pendiri tarekat Sufi, merupakan keturunan Ali bin Abi Thalib sesuai dengan catatan nasab yang resmi mereka miliki. Contohnya adalah tarekat Qadiriyah yang didirikan Syekh Abdul Qadir Jaelani, yang merupakan keturunan langsung dari Ali bin Abi Thalib melalui anaknya Hasan bin Ali seperti yang tercantum dalam kitab manaqib Syekh Abdul Qadir Jilani (karya Syekh Ja'far Barzanji) dan banyak kitab-kitab lainnya.
Read More ...